Tarawih yang Tertunda

WhatsApp Image 2025-03-10 at 17.07.55 (1)
Cerpen_Dea Muldtyah (9E)

Bulan Ramadan telah tiba. Suasana sore terasa syahdu dengan lantunan azan magrib yang bergema di penjuru kota. Udara malam begitu sejuk, ditambah dengan aroma makanan berbuka yang masih tersisa di udara. Ramadan memang selalu membawa suasana yang berbeda—lebih hangat, lebih damai, dan tentu saja lebih penuh kebersamaan.

Aku, Dea Muldtyah, sejak sore sudah berencana untuk tarawih bersama teman. Aku dan salah satu temanku sempat calling-calling lewat ponsel untuk merencanakan semuanya.

“Nanti kita tarawih bareng, ya?” ujarku melalui panggilan telepon.

“Iya, nanti aku kasih kabar lagi,” jawabnya singkat.

Namun, ketika malam tiba, aku tidak mendapat kabar apa pun darinya. Aku menunggu beberapa saat, berharap ponselku bergetar atau ada chat masuk. Namun, hening.

Karena tak ingin terlambat, aku memutuskan untuk berangkat lebih dulu ke masjid. Sebelum itu, aku sempat mengiriminya pesan.

“Aku tunggu di masjid aja, ya?”

Pesanku terkirim, tapi tak ada tanda-tanda balasan. Aku sedikit ragu, tapi tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Di masjid, suasana begitu ramai. Jamaah memenuhi saf-saf yang telah tertata rapi. Aku mencari tempat duduk sambil sesekali melirik ke pintu masuk, berharap temanku akan muncul.

Waktu salat Isya tiba, tapi dia masih belum datang.

“Ah, mungkin dia berhalangan,” pikirku.

Untung saja, aku bertemu dengan teman-teman lain di masjid. Aku pun bergabung dengan mereka, mengikuti salat Isya dan tarawih dengan khusyuk. Namun, di sisi lain, pikiranku masih bertanya-tanya, ke mana temanku yang tadi sore janjian denganku?

Setelah tarawih selesai, aku pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung mengecek ponsel dan akhirnya menemukan jawabannya.

Temanku akhirnya membalas chat!

“Maaf ya, Dea. Aku tadi nggak bales chat karena lagi salat Isya di rumah. Terus aku tunggu chat kamu lagi, tapi nggak ada, jadi aku akhirnya ikut mama tarawih. Maaf banget ya!”

Aku membaca pesannya sambil sedikit menggeleng. Pantas saja dia tidak membalas chat-ku!

Aku segera membalas, “Oh, gitu. Pantesan di chat nggak dibales. Iya, nggak papa, tapi lain kali kalau ada rencana, kasih tahu dulu biar nggak bingung, ya?”

“Iya, sekali lagi maaf ya!” balasnya cepat.

Sejak saat itu, aku dan temanku tidak pernah lagi mengingkari janji. Setiap mau tarawih, kami selalu memastikan segalanya dengan jelas. Kami saling chat, saling telepon, bahkan kadang-kadang tertawa-tawa dulu sebelum berangkat.

Malam itu menjadi pelajaran berharga. Jika kita tidak mampu menepati janji, lebih baik berkata ‘tidak’ di awal daripada memberikan harapan palsu.