Jelajah Literasi : Duta Literasi SMPN 1 Gunungsari Kunjungi Perpusda dan Rumah Dunia
Rombongan yang terdiri dari Putri Nurshafa (8F), Dea Muldtyah (9E), Asyifa (8D), Firda Amalia (8C), dan Susilawati (9C) didampingi oleh Euis Maesaroh selaku pembimbing, serta Kepala Sekolah, Endang Daruqutni.Rombongan berangkat dari sekolah pukul 10.00 WIB dan tiba di Diperpusda Kota Serang pukul 11.00 WIB. Sesampainya di sana, peserta disambut oleh pustakawan yang memperkenalkan berbagai layanan dan fasilitas perpustakaan.
“Kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan semangat litrasi di kalangan siswa. Mereka tidak hanya melihat buku, tetapi juga memahami bagaiman sistem perpustakaan bekerja, terlebih Duta Literasi Sekolah punya peranan penting dalam turut menjalankan GLS,” ujar Euis Maesaroh selaku pembimbing GLS.
Mengenal Perpustakaan dan Sistem Digital
Di Diperpusda Kota Serang, peserta diperkenalkan dengan koleksi buku, sistem katalog, serta layanan perpustakaan digital yang memungkinkan akses buku secara daring. Selain itu, siswa diberikan waktu untuk membaca bebas dan menjelajahi koleksi buku yang menarik minat mereka.
“Kami ingin menanamkan semangat literasi yang lebih luas kepada generasi muda. Perpustakaan bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi juga sarana belajar dan menggali informasi yang lebih luas,” ujar salah satu pustakawan Diperpusda.
Siswa juga diajak untuk mengenal ruang teater yang biasanya digunakan untuk pemutaran film edukatif dan diskusi literasi. Namun, karena bulan Ramadan, ruang teater tersebut belum bisa digunakan.
Setelah kegiatan di Diperpusda berakhir pada pukul 13.30 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan ke Rumah Dunia, komunitas literasi yang dikenal sebagai pusat pengembangan literasi di Kota Serang dan Banten.
Belajar di Rumah Dunia: Dari Sejarah hingga Kelas Menulis
Tiba di Rumah Dunia pukul 14.30 WIB, rombongan disambut oleh Nauval Nabilludin, salah satu relawan di komunitas tersebut. Ia menjelaskan sejarah berdirinya Rumah Dunia yang digagas oleh Gol A Gong dan Tias Tatanka, serta bagaimana komunitas ini berkembang dengan sistem gotong royong dan swadaya masyarakat.
“Rumah Dunia tidak seperti perpustakaan daerah yang mendapat anggaran dari pemerintah. Kami mengelola komunitas ini secara mandiri dengan dukungan donasi, penyewaan auditorium, serta unit usaha seperti penerbitan buku dan kafe komunitas,” jelas Nauval Nabilludin.
Peserta juga diajak untuk mengenal berbagai fasilitas yang ada selain ruang dan sudut koleksi buku dan seni di Rumah Dunia, seperti ruang auditorium Surososwan, yang sering digunakan untuk pentas seni, pelatihan menulis, dan diskusi literasi.
Selain itu, mereka mengunjungi taman baca dan kafe komunitas yang menjadi bagian dari usaha mandiri komunitas tersebut. 
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian peserta adalah kelas menulis kreatif, sebagaimana yang dipaparkan relawan, di mana mereka mendapat wawasan tentang bagaimana membangun cerita yang menarik serta pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari. “Saya jadi lebih paham bagaimana sebuah komunitas literasi bisa berkembang dan menginspirasi banyak orang. Rumah Dunia memberi saya motivasi untuk lebih aktif menulis,” kata Dea Muldtyah (9E), salah satu peserta kunjungan.
Refleksi dan Harapan
Kepala Sekolah, Endang Daruqutni menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini dan berharap semangat literasi dapat terus tumbuh di kalangan siswa.
“Kunjungan ini diharapkan bisa membuka wawasan siswa bahwa literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi juga membangun kreativitas dan berbagi ilmu dengan sesama,” ujar beliau.
Sayangnya, rencana kunjungan ke Museum Banten untuk eksplorasi literasi kepurbakalaan harus dibatalkan karena keterbatasan waktu. Meski demikian, kunjungan ke Perpusda dan Rumah Dunia telah memberikan pengalaman berharga bagi para Duta Literasi.
Kegiatan ini ditutup pada pukul 16.30 WIB, membawa semangat baru bagi para peserta untuk terus mengembangkan budaya literasi di sekolah dan lingkungan sekitarnya. (TimGLS)
