Jejak Duta Literasi: Perjalanan Menemukan Jendela Dunia
Cerpen_Dea Muldtyah (9E)
Hari itu, mata hari bersinar hangat di langit biru. Aku, Dea Muldtyah, bersama teman-teman Duta Literasi sekolah—Putri, Asyifa, Firda, dan Susi—berdiri di depan gerbang sekolah dengan penuh semangat. Kami akan mengunjungi Perpustakaan Kota dan Rumah Dunia, dua tempat yang katanya bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap membaca.
“Aku penasaran banget sama perpustakaan kota,” ujar Putri, matanya berbinar.
“Katanya bukunya lengkap banget! Semoga ada novel-novel seru,” timpal Asyifa.
Sementara mereka sibuk berbincang, aku hanya tersenyum tipis. Jujur, aku bukan tipe orang yang suka membaca. Kalau ceritanya seru, sih, aku masih mau, tapi kalau sudah buku pelajaran atau buku tebal dengan tulisan kecil-kecil? Wah, rasanya berat sekali.
Ibu Euis, guru pembimbing kami, memberi aba-aba untuk segera naik ke mobil yang akan membawa kami ke Perpustakaan Kota. Perjalanan pun dimulai.
Perpustakaan Kota: Awal yang Mengejutkan
Setibanya di sana, aku langsung terpana. Bangunannya besar, dengan dinding kaca yang memperlihatkan rak-rak buku di dalamnya. Namun, ketika kami masuk, terlihat beberapa pekerja sedang melakukan renovasi. Meski begitu, perpustakaan tetap buka untuk pengunjung.
“Kalian harus mengisi biodata dulu sebelum mulai membaca, ya,” ujar Ibu Euis sambil membimbing kami menuju meja registrasi.
Setelah mengisi biodata, kami pun masuk. Aku menatap rak-rak tinggi yang dipenuhi buku dari berbagai genre—novel, biografi, sejarah, sains, bahkan ensiklopedia yang tebalnya seperti batu bata.
“Wah, ini surga buku!” seru Firda sambil berlari kecil menuju rak novel.
Aku tertawa kecil melihat antusiasme mereka. Sementara yang lain sudah asyik dengan bukunya masing-masing, aku masih ragu-ragu. Aku berjalan perlahan, membiarkan jariku menyusuri punggung-punggung buku di rak. Hingga akhirnya, sebuah buku dengan judul unik menarik perhatianku—”Cowok Bakwan”.
Aku mengambil buku itu dan membaca sinopsis di belakangnya.
“Hidup Nayla berubah ketika bertemu dengan seorang cowok penjual bakwan yang ternyata menyimpan banyak rahasia. Dari sekadar penasaran, Nayla malah terjebak dalam kisah yang tak terduga…”
Aku tersenyum. Sepertinya seru. Aku pun duduk di sudut ruangan dan mulai membaca.
Tak terasa, aku mulai hanyut dalam ceritanya. Aku bisa membayangkan Nayla yang cuek dan cowok penjual bakwan yang misterius.
“Kok serius banget, Dea?” Susi menggodaku sambil menepuk bahuku.
Aku terkekeh. “Ternyata seru juga baca buku begini.”
Ibu Euis tersenyum melihat kami. “Perpustakaan memang tempat yang penuh keajaiban. Banyak orang yang tadinya tidak suka membaca, tapi setelah menemukan buku yang tepat, mereka jadi jatuh cinta dengan dunia literasi.”
Aku mengangguk. Mungkin ini yang disebut dengan menemukan jendela dunia.
Tersesat Mencari Rumah Dunia
Setelah puas di perpustakaan, perjalanan kami berlanjut ke Rumah Dunia. Kata Ibu Euis, tempat itu adalah pusat literasi yang didirikan oleh seorang penulis hebat, Gol A Gong.
Namun, perjalanan ke sana tidak semulus yang kami harapkan. Kami sempat tersesat karena salah masuk gang.
“Harusnya kita belok kanan tadi,” gerutu Asyifa.
“Aku kira tadi jalannya benar,” balas Firda.
Kami akhirnya bertanya kepada seorang ibu yang sedang duduk di depan rumahnya.
“Assalamualaikum, Bu. Mau tanya, Rumah Dunia itu di mana ya?” tanyaku sopan.
“Oh, lurus aja ke gang pertama, terus belok kanan. Jangan belok-belok lagi, ya,” jawab ibu itu ramah.
Setelah mengucapkan terima kasih, kami kembali berjalan. Kali ini dengan lebih yakin.
Sesampainya di sana, kami sedikit terkejut. Rumah Dunia tidak seperti yang kami bayangkan. Tempatnya sederhana, bahkan tampak sepi.
“Ini benar Rumah Dunia?” tanya Susi ragu.
Namun, ketika hendak pergi, pintu rumah itu terbuka. Seorang kakak mahasiswa keluar dan menyapa kami.
“Kalian dari Duta Literasi, ya? Silakan masuk,” ujarnya ramah.
Kami pun masuk dan duduk di lantai yang beralaskan tikar sederhana. Kakak itu mulai menjelaskan tentang Rumah Dunia dan perjuangan Gol A Gong dalam membangun pusat literasi ini.
“Pak Gol A Gong itu penulis hebat, loh. Meskipun beliau punya keterbatasan fisik, semangatnya dalam dunia literasi luar biasa,” ujarnya.
Aku terdiam. Tidak menyangka bahwa seorang dengan keterbatasan fisik bisa memiliki semangat sebesar itu dalam dunia literasi.
Yang lebih menarik, di Rumah Dunia ini ada kelas belajar gratis untuk semua usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Siapa pun bisa datang dan belajar di sini tanpa dipungut biaya.
“Keren banget!” ujar Putri kagum.
Aku mengangguk setuju. Rumah Dunia bukan hanya tempat biasa. Ini adalah tempat yang penuh dengan ilmu, inspirasi, dan semangat untuk terus belajar.
Kesimpulan dari Perjalanan
Saat perjalanan pulang, aku duduk termenung di dalam mobil. Hari ini begitu luar biasa. Aku yang dulu tidak terlalu suka membaca, kini mulai melihat buku dengan cara yang berbeda.
Aku tersenyum sendiri, teringat bagaimana aku terpana di Perpustakaan Kota dan terinspirasi di Rumah Dunia.
“Membaca itu benar-benar jendela dunia, ya,” gumamku.
Putri yang duduk di sebelahku menoleh. “Iya! Tanpa membaca, kita nggak akan tahu banyak hal.”
Aku mengangguk mantap. Hari ini aku menemukan sesuatu yang berharga. Sebuah kesadaran bahwa membaca bukan sekadar kewajiban, tapi petualangan yang bisa membawa kita ke mana saja.
Dan aku tahu, ini baru awal dari perjalanan literasiku.
