Sahur di Hari ke-13
Cerpen_Marinizaine (Serang, 14 Maret 2025)
“Trek-trek…! Dung, dung, dung! Preng…! Sahur… sahur… sahur…!”
Seketika aku terbangun usai mendengar suara anak-anak kompleks yang berada tepat di depan jendela kamarku. Bola mataku seakan berat untuk kubuka, seperti ada lem yang menempel begitu kuat.
“Huaaahhh…!” Sesekali aku menguap. Dari balik selimut berwarna pink fuchsia, aku melirik jam dinding yang berada tepat di atas pintu kamar.
“Jam 4,” gumamku dalam hati.
Dengan mata yang masih enggan kubuka lebar, aku melangkah pelan keluar kamar menuju toilet yang tak jauh dari kamar untuk mengambil air wudu.
“Kecuprak… kecurpek… kecuprek…”
Air kamar mandi yang begitu dingin membuat mataku seketika terbelalak. Dengan sedikit tergesa-gesa, aku meletakkan sajadah dan mengenakan mukena bermotif batik.
Tiba-tiba terdengar suara WhatsApp masuk.
“Kring…!”
Kubuka sejenak. Ternyata pesan dari Kepala Sekolah, mengirimkan tautan cerpen tentang motorku, si Pinky. Aku hanya membalas pesan itu dengan emotikon. Tak lama, Bapak Kepala Sekolah membalas,
“Sahur…!”
“Iya, Pak, mau PDKT dengan Sang Maha Teguh,” jawabku singkat.
“Sang Maha Teguh itu diksi dari Allah SWT,” pikirku waktu itu.
Kulanjutkan PDKT dengan Sang Maha Teguh dengan khusyuk, “Allahu Akbar…!”
Usai itu, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 04.15. Dengan sedikit lari kecil, aku menuju dapur dan memanaskan masakan sisa berbuka tadi.
“Blebeuk… blebeuk…!”
Suara kuah opor yang mulai panas dan aromanya tercium di semua sudut ruangan. Nasi yang sudah tertata di piringku pun tak lagi kesepian. Kini ada opor yang siap menemani.
“Nyam, nyam, nyam…”
Seraya membuka toples kaca berisi beberapa keping emping, aku mulai menyantap sahur.
Sahur ini kujalani seorang diri di rumah yang cukup luas. Rasa sepi menggelayut dalam diri selepas kepergian almarhum suami yang sudah tiada lima tahun lalu. Namun, aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini—berbuka dan sahur seorang diri.
Pikiranku seketika melesat pada memori ketika almarhum masih ada.
“Dulu, ketika sahur kami…”
“Ach…! Sudah, sudah!” Hati berkata dengan sedikit menepis agar rasa sedih tak lagi menggelayut di benakku.
Lamunanku pun seketika pecah bersamaan dengan suara di balik pintu.
“Mieow… Ngeong…!”
Sapaan manis dari Boby, anak kucing yang baru kuadopsi satu bulan lalu. Aku menemukannya di teras sekolah.
“Iya, Boby… nanti ya, sahur dulu,” sahutku sambil menikmati santap sahur.
Ternyata aku lupa, Ramadan tahun ini ada teman kecil bernama Boby.
Sahurku jadi tak kesepian ketika ada teman kecil yang setia menemani. Semoga bisa menjalani puasa dengan penuh keberkahan.
