Bertamasya ke Jakarta
Namaku Dea Muldtyah, biasa dipanggil Dea. Liburan sekolah kali ini terasa istimewa karena aku dan keluargaku berencana pergi ke Jakarta untuk mengunjungi Ayah yang bekerja di sana. Aku sudah tidak sabar menanti hari keberangkatan!
Pada tanggal 29 Desember 2024, kami berangkat dari rumah menggunakan kendaraan umum. Perjalanan cukup panjang, tapi akhirnya kami tiba di Kalideres. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan dengan busway. Aku sempat bingung saat pertama kali naik Trans Jakarta—bus yang panjang dan nyaman itu terasa berbeda dari angkutan umum di daerahku.
Destinasi pertama kami adalah Kebun Binatang Ragunan. Aku begitu antusias melihat berbagai jenis hewan yang sebelumnya hanya kulihat di buku atau televisi. Ada gajah besar dengan belalai panjangnya, Jerapah yang lehernya menjulang tinggi, rusa yang berlarian lincah, dan masih banyak lagi. Rasanya seperti menjelajahi dunia hewan yang sesungguhnya!

Keesokan harinya, tepat pada malam tahun baru, aku dan Mama pergi ke Monas untuk merayakan pergantian tahun. Ayah dan adikku memilih tinggal di rumah karena mereka kurang suka dengan keramaian. Aku tak masalah, justru senang bisa menikmati momen spesial ini bersama Mama.

Monas malam itu terlihat luar biasa. Lampu-lampu hias menerangi seluruh area, dan emas di puncaknya berkilauan indah. Suasananya sangat meriah dengan suara musik dari panggung hiburan. Ada pertunjukan band, tarian, dan layar tancap yang menampilkan berbagai film. Aku begitu terhanyut dalam euforia malam tahun baru hingga lupa waktu. Kami pulang sekitar pukul 01.35 dini hari, dengan hati penuh kebahagiaan.
Hari berikutnya, kami mengunjungi Kota Tua. Aku terpesona melihat bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri megah. Kami mengunjungi Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, dan beberapa tempat menarik lainnya. Di sana, ada banyak orang berpakaian seperti Noni Belanda yang siap berfoto bersama pengunjung. Namun, aku merasa kurang puas karena belum sempat mencoba naik sepeda ontel khas Kota Tua. Cuaca sangat panas, sehingga kami memutuskan pulang lebih cepat.

Namun, petualangan seru belum berakhir! Hari berikutnya, aku, Mama, dan adikku pergi mencari bakso. Saat asyik berjalan, aku tidak melihat jalan di depanku yang berlubang.
Brukk!
Aku terpeleset dan jatuh!
“Aaaaa!” jeritku kaget.
Adikku langsung panik, “Teh, kenapa jatuh?”
Mama buru-buru menolongku, tapi alih-alih khawatir, mereka malah tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha! Tadi gaya jatuhnya kayak layangan putus!” kata Mama sambil menahan tawa.
Aku yang awalnya malu justru ikut tertawa. Celana lututku bolong, dan setelah aku periksa, ada luka kecil yang mengeluarkan darah. Mama segera mengambil lidah buaya dari pot kecil di dekat warung dan mengoleskannya ke lukaku. Katanya, lidah buaya bisa menyembuhkan luka dengan cepat.
Meskipun jatuh dan malu, aku justru merasa senang. Kejadian ini menjadi momen yang tak terlupakan dalam liburan kali ini. Aku belajar bahwa jalan-jalan bukan hanya soal melihat tempat baru, tetapi juga tentang mengenal berbagai pengalaman, menemukan hal-hal baru, dan—tentu saja—menciptakan kenangan yang bisa dikenang selamanya.
Pesan moral: Bertamasya bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara untuk mengenal dunia, belajar hal baru, dan menikmati momen bersama orang-orang tersayang.

12 Februari 2025 @ 18:25
saya senang sekolah di smp 1 gunung sari
12 Februari 2025 @ 20:07
Saya terkesan dengan cerita ini, sungguh luar biasa.