Shofia
Pagi ini aku datang lebih awal. Pintu gerbang sekolah setengah terbuka. Kulajukan perlahan motorku menuju parkiran, tepat di teras depan ruang guru.
Seperti biasa, ritual kecil aku lakukan sebelum meninggalkan Kimmy—julukan untuk sahabat baru yang selalu menemaniku dalam perjalanan menyusuri jalan berkelok.
“Sudah selesai!” Usai kulepaskan kunci gembok yang telah menggantung di roda motorku.
Tiba-tiba langkahku terhenti.
“Ibu Rini!”
Aku menoleh ke belakang, tepatnya ke arah gerbang sekolah. Seorang gadis remaja berjalan cukup cepat, memanggil namaku dengan suara tergesa.
“Bu… Ibu!”
“Shofia, ada apa?” Aku menatap matanya penuh penasaran. “Kenapa, Nak? Ada apa? Kenapa kamu…!?” tanyaku tak henti-henti sambil memegang pundaknya.
Shofia tidak langsung menjawab. Ia hanya mencoba mengatur napasnya perlahan. Tatapan matanya jernih, tetapi ada campuran emosi di sana—sedih, panik, cemas, dan ketakutan.
“Tarik napas dulu, Shofia… Pelan-pelan…” Aku mencoba menenangkannya sejenak. “Sudah merasa tenang? Yuk, cerita ke Ibu, apa yang terjadi?”
Namun, kalimat yang ia ucapkan cukup menguras otakku untuk mengartikannya.
Shofia adalah seorang siswi kelas 8 SMP. Ia penyandang disabilitas, dengan kendala pada psikomotoriknya. Cara bicaranya sedikit kurang jelas, dan gerak tubuhnya tidak secepat teman-temannya.
“Itu, Bu… uang saya hilang di kamar… lima puluh ribu…” ucapnya sambil mengusap air mata yang sudah menetes. “Terus… ini, Bu… lemari baju saya banyak sampahnya. Ada yang usil… Hikshiks…” Seketika tangisnya pecah.
Aku menghela napas pelan, lalu mengusap air matanya yang terus mengalir di wajah polosnya.
“Ya Allah… Sabar ya, Shofia. Kamu tahu siapa yang melakukan itu?” tanyaku heran atas kejadian yang menimpanya.
“Gak, Bu…” jawabnya lirih, sambil mencoba mengontrol isak tangisnya yang belum mereda.
Aku memahami betapa kecewanya dia saat itu. Banyak pertanyaan yang menggelayut di pikiranku, tetapi aku menahannya. Aku tidak ingin membuatnya semakin tertekan.
“Itu uang sangat besar bagi saya, Bu… Pemberian Mama untuk saya. Sebagian buat jajan sekolah dan sebagian buat saya tabung, Bu…” lanjutnya, suaranya masih bergetar.
“Kalau boleh Ibu tahu, uang tabungannya mau Shofia belikan apa?” tanyaku sambil tersenyum kecil. Aku menggenggam tangannya erat, berharap ia sedikit lebih tenang.
“Buat beli kado ulang tahun untuk Mama…” pungkasnya.
Aku tercekat.
Mama yang hanya bisa ditemuinya setahun sekali… Shofia tinggal di yayasan. Tatapannya yang sayu, ditambah pandangan mata yang tidak stabil, menyayat hatiku saat itu.
“Saya gak bawa uang jajan ke sekolah, uang saya hilang, Bu…!” lanjutnya menjelaskan.
“Shofia sudah sarapan?” tanyaku lembut. Aku lalu menggenggamkan selembar uang ke tangannya. “Ini buat beli sarapan. Isi perut dulu, biar maag-nya tidak kambuh lagi.”
“Terima kasih, Bu…” jawabnya lirih.
“Ibu akan coba berbicara dengan pengurus yayasan supaya bisa mencari tahu siapa yang melakukan itu terhadap Shofia. Sekarang Shofia ke kelas dulu, ya? Sarapan dulu, biar lebih tenang.” Aku tersenyum hangat, membetulkan kerudungnya yang sedikit berantakan.
Shofia melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan kepala tertunduk. Sepatunya terseret pelan. Dari depan ruang guru, pandanganku tak lepas dari sosok anak istimewa itu, hingga bayangnya menghilang di balik bangunan laboratorium komputer.
Aku termenung di kursi kerjaku yang penuh dengan tumpukan buku dan beberapa kerajinan hasil karya siswa. Sesekali aku menghela napas panjang. Perasaan campur aduk dan penuh tanya masih tersisa di benakku.
“Lewat Shofia, aku banyak belajar tentang kehidupan…” Sebuah pikiran muncul begitu saja di kepalaku.
Aku mengenal Shofia sebagai anak yang rajin, tekun, percaya diri, sopan, dan romantis. Beberapa kali ia menuliskan puisi untukku, diselipkan di dalam buket bunga putih, lengkap dengan sebatang cokelat.
Aku masih ingat satu pertanyaan yang pernah ia lontarkan beberapa bulan lalu.
“Bu, boleh gak Shofia panggil Ibu dengan sebutan…”
Aku terdiam sejenak, menunggu kelanjutan kata-katanya. Namun, saat itu, Shofia hanya tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah ragu untuk melanjutkan.
“Kenapa, Nak? Mau panggil Ibu dengan sebutan apa?” tanyaku lembut, mencoba membantunya menyelesaikan kalimat yang tertahan.
Shofia menunduk, menggigit bibirnya pelan, lalu berbisik lirih, “Mama…”
Aku terpaku. Perasaan haru seketika menyeruak di dadaku.
“Tapi… boleh gak, Bu?” lanjutnya ragu, menatapku dengan penuh harapan.
Aku tersenyum, menahan kehangatan yang tiba-tiba menyelimuti hatiku. Aku tahu betapa rindunya ia pada sosok seorang ibu—sosok yang hanya bisa ia temui setahun sekali.
Aku meraih tangannya perlahan. “Tentu saja boleh, Sayang.”
Sekilas, kulihat wajahnya berubah. Mata sayunya yang tadi dipenuhi kesedihan kini sedikit berbinar. Senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Terima kasih, Bu… eh, Mama…” ucapnya lirih, hampir seperti berbisik, seakan takut jika panggilan itu terlalu berharga untuk diucapkan sembarangan.
Aku mengangguk pelan, menepuk lembut pundaknya.
—
Hari itu berlalu seperti biasa, tetapi kata-kata Shofia terus terngiang di kepalaku.
Malam harinya, saat aku tengah memeriksa tugas siswa di rumah, pikiranku kembali melayang pada sosok gadis kecil itu. Aku membayangkan betapa ia telah belajar banyak tentang kehilangan sejak dini. Betapa ia harus menelan rindu yang menyesakkan setiap hari.
Aku pun berpikir, mungkin bagi Shofia, aku bukan sekadar guru. Aku adalah seseorang yang memberinya rasa aman, tempat ia bisa berbagi cerita, tempat ia bisa merasakan kasih sayang yang selama ini hanya ia temui dalam bayangan.
Keesokan paginya, aku tiba di sekolah lebih awal seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Di atas mejaku, ada sebuah bunga berwarna putih yang indah, terselip secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sudah kuhapal betul:
“Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama.”
Aku menggigit bibir, menahan sesuatu yang menggenang di sudut mataku.
Lewat Shofia, aku belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus terikat oleh darah. Terkadang, ia hadir dalam bentuk perhatian kecil, dalam senyum yang tulus, dalam panggilan sederhana yang berarti begitu dalam.
Dan hari itu, aku menyadari sesuatu—aku bukan hanya seorang guru bagi Shofia. Aku adalah seseorang yang ia percayai untuk menjadi tempat pulangnya.
Aku tersenyum.
Dalam hati, aku berbisik, “Aku juga sayang kamu, Nak.”
_TAMAT_
