Jejak Takjil di Pasar Ramadan Sempur
Cerpen_Dea Muldtyah (9E)
Hari pertama puasa selalu membawa suasana yang berbeda—ada semangat, ada kehangatan, dan tentu saja ada kebahagiaan. Salah satu tradisi yang paling ditunggu adalah berburu takjil.
Sore itu, aku, Dea Muldtyah, bersama mama dan adikku berencana pergi ke Pasar Ramadan Sempur untuk membeli takjil. Perasaan senang mengiringi langkah kami sejak dari rumah. Namun, sesampainya di Sempur, wah, jalanan macet total! Motor kami nyaris tak bisa bergerak.
“Tadi nggak usah berburu takjil kalau tahu-tahunya seramai ini,” batinku menggerutu.
Di pasar, suasana begitu meriah. Ada banyak sekali penjual yang menawarkan berbagai makanan dan minuman khas Ramadan. Dari gorengan, kolak pisang, hingga es berbagai jenis—es kelapa, es cendol, es buah, semuanya menggoda selera.
Aku sendiri sudah menargetkan es kelapa dan chicken crispy sebagai menu takjil hari ini. Namun, karena jalanan semakin padat, kami akhirnya harus berhenti dan memarkirkan motor di pinggir jalan. Mau tak mau, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
“Aduh, macet banget ya, Mah,” keluhku sambil menggenggam tangan adikku agar tidak terpisah dari kami.
“Iya, tapi kan seru. Lihat tuh, banyak banget pilihannya!” jawab mama dengan senyum.
Kami akhirnya berhasil membeli es kelapa dan chicken crispy, namun perjalanan pulang ternyata lebih sulit. Orang-orang semakin ramai, jalan semakin penuh, dan kami benar-benar kesulitan untuk bergerak. Motor kami yang terparkir pun hampir tak bisa dikeluarkan dari kerumunan.
Saat itulah, seorang bapak yang kebetulan sedang berdiri di dekat situ melihat kesulitan kami.
“Butuh bantuan, Dek?” tanyanya ramah.
“Iya, Pak. Motornya nggak bisa keluar,” jawab mama.
Tanpa banyak bicara, bapak itu membantu mendorong motor kami agar bisa keluar dari himpitan orang-orang. Dengan sedikit usaha dan bantuan dari beberapa orang di sekitar, akhirnya motor kami bisa berjalan lagi.
“Terima kasih banyak, Pak,” kata mama dengan tulus.
“Sama-sama, Bu. Hati-hati di jalan, ya,” ujar bapak itu sambil tersenyum.
Kami pun pulang dengan perasaan lega. Walaupun sempat kesulitan, pengalaman hari ini memberi pelajaran berharga. Terkadang, kebaikan kecil dari seseorang bisa sangat berarti bagi orang lain.
Pesan moral: Lakukan kebaikan sekecil apa pun, karena kamu tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan membawamu menuju surga.
