Mukena Baru dan Hari ke-7
Cerpen_Dea Muldtyah (9E)
Bulan Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda. Udara malam terasa lebih sejuk, suara tadarus Al-Qur’an menggema dari masjid-masjid, dan aroma masakan khas buka puasa masih tercium di beberapa rumah. Malam itu, seperti biasa, aku bersiap untuk melaksanakan salat tarawih.
Aku menatap saudara sepupuku yang masih kecil, duduk di sudut ruangan dengan wajah murung. Matanya menatap kami yang bersiap-siap, lalu menunduk.
“Kenapa dia nggak ikut?” pikirku.
Aku mendekatinya. “De, ayo tarawih bareng!” ajakku dengan semangat.
Dia menatapku ragu, menggigit bibirnya, lalu berkata lirih, “Teteh Dea… aku mah nggak punya mukena.”
Aku terkejut. “Kok nggak punya mukena? Mamah nggak beliin?” tanyaku heran.
Dia menggeleng pelan. “Nggak…” jawabnya, suaranya hampir tak terdengar.
Aku menoleh ke arah orang tuanya, yang duduk tak jauh dari kami. Mereka hanya diam, tak bereaksi. Aku ingin bertanya, tapi takut menyakiti perasaan mereka. Mungkin mereka sedang kesulitan ekonomi, atau ada alasan lain yang tak bisa mereka ungkapkan.
Akhirnya, malam itu aku pergi tarawih bersama adikku dan orang tuaku. Sepupuku tetap tinggal di rumah, menatap kepergian kami dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Hatiku terasa berat.
—
Keesokan paginya, aku duduk termenung di kamar, memikirkan cara agar sepupuku bisa ikut tarawih bersama kami. Aku teringat mukena lamaku yang sudah tidak terpakai.
Tanpa membuang waktu, aku mulai mencari mukena itu di lemari. Aku membongkar tumpukan pakaian, menggeser beberapa baju, lalu meraih sesuatu di sudut lemari. Ah, ini dia! Mukena putih dengan sedikit motif bunga di tepinya. Meskipun sudah agak sempit, mukena ini masih layak dipakai.
Dengan hati berdebar, aku membawa mukena itu ke rumah sepupuku. Saat aku sampai, dia sedang duduk di teras rumah, memainkan ujung baju tidur lusuhnya.
“De, ini buat kamu,” kataku, menyerahkan mukena itu.
Dia menatapku dengan mata terbelalak. “Buat aku, Teteh?” suaranya penuh ketidakpercayaan.
Aku mengangguk. “Iya, Teteh nggak pakai lagi. Nanti malam kita tarawih bareng, ya?”
Ekspresi wajahnya berubah drastis. Dari sedih menjadi penuh kebahagiaan. Dia melompat kecil, memeluk mukena itu erat-erat, lalu tertawa senang. “Yey! Mukena baru! Makasih, Teteh Dea!”
Dia berlari masuk ke rumah, menghampiri ibunya yang sedang melipat pakaian. “Mah, lihat! Aku dikasih mukena sama Teteh Dea! Sekarang aku bisa ikut tarawih!” katanya penuh semangat.
Ibunya menatap mukena itu sebentar, lalu tersenyum tipis. “Alhamdulillah, ya, De,” katanya pelan.
Namun, ada sesuatu di mata tanteku yang membuatku berpikir. Ada rasa lega, tetapi juga kesedihan yang berusaha disembunyikan. Aku menyadari sesuatu—mungkin mereka ingin membelikan mukena, tetapi ada kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Aku tak ingin bertanya lebih jauh. Aku hanya ingin sepupuku bahagia.
—
Malam itu, aku dan sepupuku pergi ke masjid bersama. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tak pernah pudar sejak sore tadi. Saat kami mulai salat, aku sempat melirik ke arahnya. Dia tampak khusyuk, begitu bahagia bisa beribadah bersama kami.
Di akhir tarawih, dia menggenggam tanganku erat. “Teteh Dea, makasih ya… Aku senang banget.”
Aku tersenyum dan mengusap kepalanya. “Sama-sama, De. Yang penting kita bisa ibadah bareng.”
Aku menyadari sesuatu malam itu. Kebahagiaan sejati bukan berasal dari seberapa banyak kita memberi, tetapi dari ketulusan yang kita sisipkan dalam setiap pemberian. Sebuah mukena sederhana mungkin tak berarti banyak bagiku, tetapi bagi sepupuku, itu adalah hadiah yang membuatnya merasa lebih dihargai dan disayangi.
Dan sejak hari ke-7 Ramadan itu, aku dan sepupuku selalu tarawih bersama.
—
Pesan Moral:
Memberi dengan ikhlas, meski sedikit, jauh lebih berharga daripada memberi banyak tetapi mengharapkan balasan. Kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal besar, tetapi dari ketulusan hati.
