Nyawur
Cerpen_Marini (12/03/2025)
Ini kisah romantisku dengan Pinky.
Pinky adalah sahabat lamaku, kami bersahabat belasan tahun lamanya. Sejak aku duduk di bangku perkuliahan, Pinky selalu ada di setiap momen penting dalam hidupku. Dulu, ketika aku terlambat ke kampus, Pinky dengan setia menemani perjalananku, seolah mengetahui betul betapa berharganya setiap detik yang kami lalui bersama. Persahabatan kami sangat terjalin erat, dimana ada dia, di situ ada aku. Seperti bayangan yang tak pernah lepas, selalu mengikuti kemana pun aku pergi.
Entah kenapa, sore itu aku tak pergi bersamanya. Badannya sedang tidak baik-baik saja. Aku pun memutuskan pergi bersama Icha, sahabatku yang lain. Di dalam hati, aku teringat betapa Pinky selalu setia, meskipun kehadirannya kadang sudah terasa berbeda seiring waktu.
“Tumben, gak bareng Pinky?” tanyanya penasaran, sambil melirik ke belakangku seolah mencari seseorang yang biasa menemaniku setiap perjalanan.
“Iya, aku sendirian. Kebetulan Pinky lagi tidak enak badan,” jawabku dengan senyum simpul, namun tak mampu menyembunyikan rasa sedih yang menggelayut dalam dada.
Icha mengangguk dengan raut prihatin.
“Akhir-akhir ini, kondisi kesehatannya menurun. Sudah berkali-kali aku coba bawa dia berobat, Cha,” ungkapku dengan suara pelan yang menyimpan banyak kenangan.
“Terus?” tanya Icha penasaran.
“Ya, kalau sudah berobat dia bisa fit lagi. Cuma ya, mungkin faktor usia juga kali ya?! Dia sering seperti itu.”
Di antara tawa dan cerita yang dulu selalu mengiringi perjalanan bersama, aku kini merasakan getirnya perpisahan. Aku masih ingat jelas momen sulit yang pernah kami alami bersama saat menyusuri jalan berkabut. Rintik hujan yang turun perlahan membuat tubuh kami basah, namun tanpa cela—sebuah kenangan yang kini terasa lebih menyayat.
“Hufffh… huffh…!” terdengar suara helaan napas terengah-engah yang masih terngiang di telinga. Aku mencoba menyalakan mesin dengan tangan yang gemetar, berharap ada kekuatan untuk terus melaju meski jiwaku terasa hampa.
“Kamu kenapa? Sakit lagi? Sudah lelah?!” tanyaku cemas, mengerutkan dahi, sementara hatiku menolak menerima kenyataan bahwa waktu telah mengikis kekuatan sahabatku.
Tak ada jawaban. Kami hanya melanjutkan perjalanan dengan perlahan, seolah setiap kilometer adalah perpisahan yang tak terhindarkan.
“Sepulang nanti kita berobat lagi ya… Insyaallah kamu sehat lagi dan baik-baik saja.” Ucapku, meski di balik kata-kata itu tersimpan perasaan tak rela dan berat hati.
Namun, aku tahu, Pinky sudah terlalu tua untuk terus berjuang bersamaku. Tubuhnya yang dulu tangguh kini terasa rapuh, menuntut waktu untuk beristirahat. Aku tidak bisa memaksanya untuk selalu ada di sampingku, meskipun setiap detiknya penuh kenangan manis yang tak tergantikan.
Pertemuan dengan Kimmy
Di tengah kepergian yang berat, hidup mempertemukanku dengan Kimmy, sahabat baru yang membawa kehangatan dan keceriaan. Kimmy adalah sosok yang menyenangkan, hangat, dan ceria. Aku pun mengajaknya untuk berkenalan dengan sahabat lamaku, Pinky—sebuah perkenalan yang sekaligus menjadi simbol peralihan dalam hidupku.
Aku mengundang keluarga dan teman-teman untuk menghadiri acara tradisi yang kami sebut Nyawur. Tradisi yang tidak hanya sekadar melempar uang, beras, atau benda-benda kecil, melainkan juga sebagai ungkapan syukur dan perayaan atas perjalanan panjang hidup. Setiap butir yang beterbangan seolah membawa pesan perpisahan pada masa lalu dan sambutan pada babak baru.
Hari itu pun tiba.
“Cring-cring… kresek-kresek…!” suara benda-benda kecil yang beradu di dalam baskom yang kuaduk menyambut dengan riuh suasana.
“Bismillahirrahmanirrahim… Ayo, pada kumpul!” teriakku kepada saudara-saudaraku yang sudah tak sabar menunggu acara Nyawur dimulai.
“1… 2… 3… byurrrr… cring-cring… byurrr…!” Suara tawa dan kehebohan memenuhi udara, diiringi percikan kegembiraan dari anak-anak yang ikut serta.
“Awas! Ini tanganku terinjak!” teriak ponakanku yang masih kecil, diikuti oleh canda tawa yang semakin menghangatkan suasana.
Kami pun bersama-sama menghitung “hasil penjarahan” dari acara Nyawur sore itu.
“Dapat berapa?” tanyaku sambil mengumpulkan kenangan yang tersebar bersama benda-benda kecil itu.
“Dapat delapan belas ribu, permen empat!” sahut salah satu ponakanku dengan penuh keceriaan.
“Wah, lumayan buat beli bakso, haa…” kataku sambil tersenyum, mengenang saat-saat sederhana yang kini terasa begitu berarti.
“Aku dapat lima ribu!” celetuk kakakku, menambahkan tawa di antara doa dan harapan yang terucap.
Acara Nyawur pun usai sore itu. Doa dan harapan memenuhi udara, seolah setiap butir yang beterbangan menyambut masa depan yang baru.
“Terima kasih doanya… Aamiin…!” ucapku, sambil meresapi betapa dalamnya perasaan yang tersimpan di balik tradisi sederhana ini.
Saat matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk senja, aku bergegas pulang. Di perjalanan, perasaan rindu terhadap Pinky bercampur dengan harapan akan kebersamaan bersama Kimmy—motor baruku. Menatap Kimmy yang berkilau di bawah sinar senja, hatiku sempat bimbang. Ada rasa bersalah yang tak terungkap, seakan sepotong masa lalu yang penuh pengorbanan harus tergantikan oleh yang baru. Namun, aku tahu, setiap perjalanan memiliki babak tersendiri.
Pada akhirnya, persahabatan antara aku, Pinky—sahabat lamaku yang penuh cerita, dan Kimmy—sahabat baruku yang penuh harapan, kini terjalin hingga saat ini. Aku merayakan setiap kenangan dengan syukur, meskipun harus melepas yang lama untuk menyambut yang baru.
